Karena Malas Setitik Timbul Rajin Sebelanga (Part 2)

Hari Selasa diminggu yang sama pada jam pertama, Ms. Elizabeth datang ke kelas membawa buku buku yang dikumpulkan. Kulihat pekerjaan teman-temanku banyak yang dilingkari merah. Nilainyapun bahkan ada yang mengenaskan. Mendapat nilai 40 dari Ms. Elizabeth sudah merupakan suatu kebanggaan karena belum pernah ada yang mencapai nilai 35 pun.

Kuambil pekerjaanku dan kulihat. Mulai halaman pertama kulihat, tidak ada coretan merah. Aku binung. Kubuka halaman kedua, masih tidak ada coretan. Oh Ya Allah, apa gerangan yang terjadi? Kubuka halaman ketiga, tidak ada coretan. Begitu juga dengan halaman keempat. Segera kubuka halaman terakhir, aku merasa ada yang aneh. Pikiranku galau. Hatiku galau. Dadaku tidak seluas lapangan lagi. Firasatku menyatakan: hal buruk akan terjadi. Di halaman terkahir, ada tulisan Ms. Elizabeth yang ditulis dengan tinta merah: setelah pulang sekolah temui saya! Oh… Apakah hidupku akan berakhir setelah pulang sekolah nanti?

Pelajaran berlangsung begitu cepat. Bel pulang seperti monster yang berteriak tepat ditelingaku. Kupenuhi janjiku pada Ms. Elizabeth. Dengan gemetaran, aku menuju ruang guru dan menemui Ms. Elizabeth.

Aku melihat Ms. Elizabeth, beliau juga melihatku. Tapi tatapan Ms. Elizabeth tidak seperti biasanya. Ms. Elizabeth tampak sangat ramah dengan senyuman yang sangat manis. Wow, ada apa ini? Apa aku mendapatkan nilai 40? Ah, tak mungkinlah…

Aku semakin mendekat kepada Ms. Elizabeth.

“Permisi Miss,eh,ehm maaf…Bu,” aku gugup.

“Duduk saja nak,” sedikit takut, aku langsung duduk dikursi yang ada di hadapan Ms. Elizabeth.

“Ada apa ya bu?”

“Begini, melihat pekerjaanmu kemarin, Saya jadi bingung mau memberi nilai berapa pada pekerjaanmu. Jawabanmu tidak cocok lho dengan soalnya. Masak pertanyaannya ‘kapan Indonesia merdeka?’ jawabannya ‘trias politica menurut montesque ada 3, eksekutif, yudikatif, dan leislatif’?” aih, aku malu setengah hidup. “Dan jawabanmu hampir kesemuanya tidak nyambung,” aih, aku malu satu hidup.

“Eh, iya iya maaf Bu. Saya kurang konsetrasi Bu.”

“Kamu mengerjakannya tergesa-gesa ya?”aku menunduk sangat malu.

“Ya sudah. Untuk kali ini Saya masih beri toleransi. Tapi untuk selanjutnya Kamu harus bersungguh-sungguh ya! Jangan malas, tetaplah fokus… Kenapa Saya selalu memberi nilai yang sangat buruk pada kalian? Karena Saya ingin kalian berusaha. Nilai hanya memiliki sedikit arti untuk saya, bahkan hampir mendekati tidak berarti. Tapi nilai tetap punya manfaat. Maka dari itu berusahalah. Jika sudah, serahkan pada Allah karena segala hasil adalah Allah saja yang menentukan. Paham?”

“Iya Bu.” Otakku dan perasaanku benar benar terkesan dengan guruku yang satu ini. Beliau bisa sangat tegas dan kadang juga sangat lembut.

“Ya sudah, sekarang Kamu boleh pulang.”

“Iya Bu. Terimakasih atas nasehatnya.”kakiku melangkah keluar, menjauhi Ms. Elizabeth. Namun pikiranku masih melayang-layang seputar nasehat beliau. Aku sadar, semua butuh perjuangan. Semua butuh pengorbanan. Tinggal kita yang harus bijaksana memilih apa yang harus dikorbankan dan untuk apa pengorbanan itu.

4 bulan setelah nasehat Ms. Elizabeth datang padaku, tak pernah satu haripun kulewati tanpa berusaha, belajar dengan sungguh-sungguh.

“Jika kita mampu memetik pelajaran, karena malas setitik, bisa timbul rajin sebelanga”

– Bejo

https://fauzan10.wordpress.com/2011/11/11/karena-malas-setitik-rusak/

Advertisements

About fauzanfnr2

Tentang aku dan apa adanya saja

Posted on November 11, 2011, in Cerita, Entahlah, Humor, Masalah, Motivasi, Tangis and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: