Alat Penghapus File Ingatan

  Ehm, buat cerpen? Bagiku, bagai daun memeluk gunugn… Nonsense bro! Tapi ya sudahlah, ini juga cerpen dari adik cewek semata wayang…bukan mine. Silahkan dibaca

Akhir-akhir ini di kelasku sibuk membicarakan penemuan baru berupa alat penguat ingatan yang akan disebarluskan untuk sekolah-sekolah. Tujuan awalnya memang untuk membantu proses belajar siswa agar cepat menghafal, namun pada prakteknya, setelah melihat launching alat tersebut oleh pemerintah pusat disiarkan oleh televisi, kita berencana untuk melakukan hal yang berbeda.

Aku mendengar sekilas dari temanku, alat tersebut rupanya juga mampu menghapus beberapa ingatan. Hal ini dikarenakan kapasitas ingatan seseorang berbeda dengan yang lain. Maka, suatu ketika ingatan melebihi kapasitas, seseorang dapat menghapus ingatan-ingatan yang tidak perlu. Penemuan ini benar-benar brillian, kurasa. Kita kini dapat melupakan kenangan-kenangan buruk yang tak pernah kita inginkan.

Aku harus mencobanya suatu saat.

***

            Hari ini alat tersebut akhirnya dapat mencapai sekolahku. Pemerintah pusat memberikan dua alat penguat ingatan, yang baru hari ini kutahu namanya Memorymeto, untuk sekolah kami. Rencananya, satu diletakkan di dekat area kelas IX, yang satu lagi di area kelas VII.

Kepala sekolah menjelaskan berbagai hal mengenai Memorymeto. Alat tersebut berupa tablet dan sebuah benda yang mirip headphone yang dihubungkan oleh dua kabel warna biru dan kuning. Cara menggunakannya pun mudah, tinggal pasang alat yang mirip headphone tersebut di kepala layaknya kita menggunakan headphone, dan tekan tombol on pada tablet. Alat tersebut akan berkedip sebentar dan muncul tampilan loading. Selanjutnya ingatan kita akan muncul pada layar, dan kita bebas menghapus dan menambahkan file ingatan. Ada juga program yang berfungsi untuk menguatkan dan melemahkan ingatan, yang cara menggunakannya juga mudah. Ketika kita memilih salah satu ingatan, akan muncul opsi seperti pengaturan sound pada komputer. Kita tinggal men-drag ke atas, maka selanjutnya kita akan lebih ingat pada hal tersebut.

Semua anak di aula memandang kepala sekolah dan beberapa guru yang sedang memperagakan cara penggunaan Memorymeto tanpa berkedip. Setelah kami mengangguk paham dengan apa yang diperagakan kepala sekolah dan guru-guru, kami dibubarkan dan pemasangan alat tersebut akan segera dilakukan.

Memasuki hari ketiga setelah dipasangnya alat Memorymeto di sekolah kami. Berderet-deret siswa mengantri di belakang sebuah tempat seperti tempat untuk telepon umum di taman kota yang berisi Memorymeto. Hal ini untuk mencegah terbukanya rahasia-rahasia pengguna Memorymeto, sehingga diperlukan adanya tempat untuk menjaga privasi. Aku tak sabar untuk segera mencoba, namun antrian itu seolah tak pernah berakhir di tiap jam istirahat. Akhirnya aku selalu melangkah menjauh ketika melihat antrian yang mengular panjang itu. Malas.

Tapi jika aku malas karena melihat antrian itu, aku pasti akan kembali bersemangat jika melihat mereka yang sudah berhasil menggunakan Memorymeto. Mereka pasti terlihat lebih riang dan ceria. Masalah terlupakan, belajar semakin mudah. Hasilnya juga cukup memuaskan, setelah menggunakan Memorymeto, nilai-nilai ulangan mampu meningkat drastis tanpa harus berusaha terlalu keras. Penemuan ini benar-benar sangat menguntungkan. Maka aku akan terus menunggu kesempatanku.

Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu tiba. Tepat memasuki hari ketujuh setelah pemasangan Memorymeto. Hari ini aku ada jam kosong pada jam kelima dan keenam. Aku dan beberapa temanku berlarian menuju tempat Memorymeto. Beruntung, tak ada yang mengantri pada jam itu. Aku dan lima temanku mengundi nomor antrian. Tak apalah, aku hanya mendapat nomor antrian 3. Temanku yang satu sudah masuk dan mulai mengoperasikan Memorymeto.

Setelah sekitar sepuluh menit, temanku yang mengantri di depanku beranjak masuk ke tempat Memorymeto. Aku semakin tak sabar menunggu giliranku.

Lima menit kemudian. Aku berdebar-debar memasuki ruang kecil ber-AC tersebut. Ruangan ini mirip ruangan yang digunakan untuk mesin ATM. Persis sekali. Hanya alatnya saja yang berbeda.

Aku gemetar mengambil alat yang mirip headphone. Pelan-pelan memasangnya di kepala, lalu menekan tombol on pada tablet. Alat tersebut menggerung pelan sebentar, berkedip dua kali, lalu muncul layar menunjukkan alat sedang loading. Aku menahan nafas.

Dan, taraa! Aku tersenyum lebar saat Memorymeto sudah menyala dan terdapat beberapa file ingatanku yang banyaaak sekali. Bahkan jutaan file. Aku menganga terkagum dengan alat ini. Sepuluh detik berlalu aku hanya menganga sambil melihat-lihat alat canggih dan inovatif ini. Aku cepat-cepat kembali pada tujuanku semula menggunakan Memorymeto ini untuk pertama kalinya.

Aku meng-copy file materi Sejarah dari tablet milikku. Memasukkannya dalam folder ingatanku. Setelah melihat-lihat sebentar, aku segera mematikan Memorymeto dan beranjak keluar.

“Pada tanggal berapa Agresi Militer I Belanda dilancarkan?” temanku tiba-tiba bertanya. Semacam tes apakah alat ini berhasil, mungkin.

Belum sempat aku berpikir lama, mulutku sudah menjawab, “21 Juli 1947.”

Kedua temanku yang tadi mengantri di depanku bertepuk tangan. Aku kembali ternganga tak percaya. Secanggih itukah? Wow.

***

            Dua minggu kemudian.

Aku kembali mendapati jam kosong pada jam kelima dan keenam. Aku dan delapan temanku berlarian saling mendahului menuju tempat Memorymeto. Nanti pada jam ketujuh dan kedelapan akan ada ulangan biologi, jadi kami berebutan saling mendahului untuk meng-copy file materi biologi yang belum sempat kami pelajari semalam.

Aku terengah-engah sambil berdiri di antrian nomor empat. Sambil menunggu kami berteduh di tepi taman sekolah. Gerimis mulai turun perlahan-lahan. Aku mengatur nafasku sambil mengecek file biologi di tabletku.

Hujan lama-lama semakin deras. Walaupun begitu, antrian di Memorymeto juga bertambah panjang. Setelah antrian kesembilan yang ditempati teman sekelasku, ada beberapa anak mengantri di belakangnya, tak ingin melepaskan kesempatan menggunakan Memorymeto.

Bel istirahat kedua berdentang tepat saat aku memasuki ruang Memorymeto. Aku menyibakkan rambutku yang basah, lalu memasang headphone. Seperti saat aku menggunakan Memorymeto pada kesempatan sebelumnya, aku lalu menekan tombol on. Layar berkedip dua kali, lalu muncul loading.

Akhirnya Memorymeto sempurna telah menyala. Aku buru-buru menyalakan tabletku dan mencari materi yang telah kusiapkan tadi.

Tiba-tiba AC di ruang kecil tersebut mati. Rupanya listrik mati akibat hujan yang semakin deras. Aku lebih cepat meng-copy file tersebut ke dalam folder ingatanku. Belum sedetik pengiriman file tersebut selesai, tampilan pada tablet Memorymeto tersebut bergerak dari atas ke bawah, kiri ke kanan. Aku panik, tanpa sempat berfikir bahwa harusnya jika listrik mati, maka Memorymeto juga akan mati.

Aku menekan-nekan tombol pada layar tablet yang berlari-lari. Tampilan layar pada Memorymeto terus bergerak dari atas ke bawah, semakin lama semakin cepat. Mirip sekali seperti televisi yang sedang tidak dalam keadaan bagus. Menyadari hal tersebut sia-sia, aku gegabah menekan tombol on/off pada Memorymeto. Ketekan berulang-ulang. Satu kali, tak berubah. Dua kali, sama saja. Tiga kali, aku sudah benar-benar panik dan Memorymeto tetap saja seperti itu.

Aku berpikir untuk segera meninggalkan ruangan Memorymeto dan membiarkannya seperti itu. Setidaknya aku bisa segera melapor ke guru yang lebih mengerti. Namun, baru sedetik aku memegang headphone dan berusaha melepaskannya, tiba-tiba sekujur tubuhku seakan dialiri listrik. Seluruh persendianku lemas, lumpuh. Aku terjatuh tergeletak di lantai, headphone itu terlepas dengan sendirinya.

“Jess? Jessica?” aku samar-samar melihat pintu ruangan Memorymeto terbuka sedikit. Samar-samar juga melihat seseorang menjulurkan wajahnya dan memanggil namaku cemas.

Sedetik kemudian aku pingsan. Gelap.

***

            Aku mengerjapkan mataku.

Aku membuka mataku perlahan, lalu memejamkannya lagi setelah sebuah sinar berwarna putih menyilaukan mataku. Setelah memejamkan mata sekitar sepuluh detik, aku kembali membuka mataku, walau masih sedikit silau dengan sinar itu.

Mataku akhirnya benar-benar terbuka.

Aku melihat ruangan agak besar yang serbaputih ini. Beberapa selang terpasang di beberapa bagian tubuhku. Di sekelilingku ada beberapa orang, yang aku sama sekali tidak mengenalnya.

Tepat di samping kiriku, ada seorang wanita paruh baya yang sedang menangis hebat sambil menatapku. Di sampingnya ada seorang pria berkumis mengelus punggung wanita tadi, berulang kali berkata sabar. Disampingnya lagi ada pria tambun menggunakan jas yang tersetrika rapi, memohon maaf kepada wanita dan pria tadi. Aku hanya memandangnya tak mengerti.

Lalu aku menoleh ke kanan dan mendapati beberapa anak yang sama besar denganku duduk terdiam sambil memandangku prihatin. Beberapa darinya bahkan meneteskan airmata dan beranjak keluar dari ruangan.

“Bapak, Ibu, kami benar-benar meminta maaf atas kejadian ini.. Semua ini benarlah suatu kecelakaan yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.. Saat itu terjadi korsleting listrik dan fatal, Memorymeto error dan menghapus seluruh ingatan Jessica.. Kami betul-betul minta maaf, kami akan tanggung semua biaya pengobatannya..”, kata pria tambun tadi diikuti beribu kalimat maaf.

“Kami sudah rela.. Kami sudah rela..”, jawab pria berkumis disampingnya diikuti anggukan ragu. Terdengar nada getir dalam kalimatnya, seperti menahan tangis. Kedua manik matanya tak henti menatapku.

Aku terus saja memandang mereka tak mengerti.

***

Oleh: Adikku

Advertisements

About fauzanfnr2

Tentang aku dan apa adanya saja

Posted on December 10, 2011, in Cerita, Entahlah, Hobby, Ilmu Pengetahuan, Masalah and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. adikmu berbakat nih. keren juga kisahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: